Menulis Dari Hati

Agustus 10th, 2009

Menjadi Penulis Itu Kutukan

Posted by hsibnu in kalam

Dengar Kawan; Menjadi penulis itu kutukan!

Nanti boleh kau perdebatkan ucapanku. Tapi sekarang simaklah dahulu penjelasanku. Berjuta-juta manusia di negeri kaya ini yang penduduknya sudah terlepas dari penyakit buta aksara. Tapi berapa banyak yang punya kebiasaan menuliskan gagasan, perasaan, bahkan sekedar sampah yang menumpuk di kepala dan menyesaki rongga dada? Adakah sepuluh persen di antaranya? Entahlah. Tak pernah ada sebuah sensus untuk menjelaskannya dalam sebuah deretan angka. Dan - seandainya bertaruh itu diperbolehkan - saya berani bertaruh bahwa mereka yang secara yakin menancapkan cita-cita menjadi seorang penulis itu jauh lebih sedikit. Tetapi karena bertaruh itu mendekati judi, maka saya batalkan untuk melakukan sebuah pertaruhan. Lagipula saya yakin anda setuju dengan apa yang saya sampaikan.

Mari kita mulai dengan kenyataan bahwa tidak semua orang “dijangkiti” keinginan untuk menulis. Di sisi ini mungkin bisa kita katakan bahwa menjadi penulis (dengan “p” kecil) adalah sebuah anugerah. Tapi antara anugerah dengan kutukan setipis kulit bawang. Seperti anugerah sekaligus kutukan yang menimpa Peter Parker ketika laba-laba yang mengandung radio aktif  menyengat tangannya dan kemudian mendatangkan sebuah kekuatan super. Kekuatan yang memaksanya mengenakan topeng Spiderman seumur hidupnya demi melindungi orang-orang yang dicintainya. Kekuatan yang membuat ia tak pernah sanggup bahkan untuk sekedar mengatakan cintanya pada Mary Jane Watson. Sebab ia sangat memahami konsekuensi dari kekuatan yang sekarang melekat pada dirinya itu; with the great power, comes great responsibility … (Bersama kekuatan yang besar, ada tanggung jawab yang besar!)

Maka menjadi penulis adalah sebuah kutukan. Seumur hidup seorang penulis akan selalu merasa gelisah karena kenyataan di sekelilingnya memang tidak pernah menyodorkan gambaran ideal kehidupan manusia. Bagi orang lain semua kegelisahan tersebut bisa dibagi-bagi. Tapi tidak bagi seorang penulis. Saat bekerja, seorang penulis benar-benar sendiri karena tidak ada proses kreatif yang berlangsung massif sekalipun ia terlibat dalam sebuah komunitas penulis. Semua dikerjakan sendiri. Sempurnalah sepinya dunia penulis.

Ada kekuatan besar dalam sebuah tulisan. Kekuatan untuk setidaknya mempengaruhi orang lain. Itulah sebabnya pemerintah zionis Israel menangkap dan memenjarakan semua penyair Palestina. Karena bagi mereka, satu penyair Palestina jauh lebih berbahaya dari 10 prajurit komando terlatih. Jika sebuah tulisan tidak berarti apa-apa, pemerintah kolonial Belanda tidak akan dibuat resah dengan sebuah tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Jika Aku Seorang Belanda) yang ditulis oleh RM. Soewardi Soeryanigrat atau Ki Hajar Dewantara. Bahkan konon sebuah novel berjudul Uncle Tom’s  Cabeen yang ditulis oleh Harriet Bacher Stowe menjadi salah satu pengobar semangat anti perbudakan yang memicu pecahnya Perang Sipil di Amerika Serikat pada era 1890-an itu. Seperti kata John F. Kennedy; Jika politik itu kotor, sastra membersihkannya …

Beruntunglah mereka yang menyadari kekuatan itu. Sekarang tinggal bagaimana kita mengelola kekuatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebab kekuatan tersebut tidak hanya kita pertanggungjawabkan di sini, dihadapan masyarakat pembaca, tetapi juga kelak setelah kita meninggalkan dunia. Jika kita hanya menghamburkan sampah, hanya bau busuk yang akan kita terima. Tetapi jika cahaya yang kita bawa izinkan saya mengingatkan sebuah kabar gembira. Sebuah riwayat menyebutkan ada 3 jenis manusia yang dijanjikan pertolongan dari Allah SWT; 1. Para mujahid yang berjuang dengan penuh keikhlasan, 2. Penulis yang mencerahkan / menjadi penawar, dan 3. Seorang pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan.

Maka jika “kutukan” itu menghampirimu, berbahagialah kawan. Karena tidak banyak manusia di dunia ini yang siap menampung kegelisahan semesta dan menyuarakannya.

Tanah kelahiran, 10 Agustus 2009

Agustus 7th, 2009

Perlukah Nama Pena?

Posted by hsibnu in kalam

Bertahun-tahun yang lalu saya sering berganti-ganti nama pena. Itu sebelum saya merasa mantap untuk fokus dalam dunia penulisan. Suatu ketika saya berfikir untuk merumuskan nama pena yang tidak terlalu menyimpang dari kehidupan nyata. Waktu itu tahun 1995, dalam sebuah perjalanan naik bus ke luar kota. Selintas terfikir sejumlah nama, tapi akhirnya saya memilih nama yang sekarang saya pakai; Ibnu HS.  Artinya tahu ‘kan? Betul sekali, Ibnu itu artinya anak dan HS itu nama Ayah saya: Hatta Syukur.

Sejak itu nama Ibnu HS menyatu dengan seluruh karya dan kehidupan saya. Bahkan kadang-kadang jauh lebih eksis dibandingkan nama saya yang asli. Lucunya, suatu ketika ada seseorang yang katanya bisa membaca watak seseorang berdasarkan namanya. Anehnya dia menyampaikan hasil yang berbeda antara Deddy Setiawan dengan Ibnu HS. Atau jangan-jangan saya punya kepribadian ganda? Wallahu a’lam … :-D

Tentang nama pena ini kadang-kadang jadi masalah juga. Dulu pernah ada kiriman untuk saya (sebagai Ibnu HS) yang dialamatkan ke kantor. Waktu itu Satpam di kantor heran; “Tidak ada yang namanya Ibnu HS di kantor ini …?”. Untung kebetulan salah satu teman mendengar dan tahu itu nama pena saya, kalau tidak entah bagaimana kejadian berikutnya.

Itu baru soal kiriman. Yang lebih “menegangkan” itu waktu saya mau ke Silaturrahim Nasional FLP di Jakarta tahun 2008 yang lalu. Karena tiket pesawat dari Banjarmasin ke Jakarta lebih murah daripada lewat Palangkaraya, saya minta bantuan teman-teman Banjarmasin untuk mencarikan tiket pesawat. Dapat, harganya pun sesuai harapan. Masalahnya teman-teman rupanya lupa kalau Ibnu HS itu nama pena. Salah saya juga sih lupa konfirmasi. Walhasil saya sempat cemas gagal berangkat cuma karena tidak lolos pemeriksaan tiket yang tidak sesuai dengan nama di KTP.

Akhirnya, apakah kita memilih untuk menggunakan nama pena atau nama asli dengan berbagai pertimbangannya, semuanya kembali kepada kita sendiri. Yang penting, enjoy aja deh …!

Tanah kelahiran, 07 Agustus 2009

Agustus 7th, 2009

Bendera, Celoteh Kecil Di Bulan Agustus

Posted by hsibnu in catatan hati

Saya awali celoteh ini dengan sebuah kisah yang saya dengar dari seorang teman. Tentang seorang perempuan tua di persimpangan jalan yang tak pernah sepi, suatu hari di bulan Agustus, di sebuah kota yang dijuluki sebagai Kota Pahlawan. Di bawah terik matahari ia berdiri dengan lutut yang mulai gemetar menahan rasa lapar. Ribuan orang dengan ribuan kepentingan hilik mudik di depannya sejak pagi. Tapi lusinan kain bendera yang dijajakannya sejak pagi belum terjual sama sekali.

Saya tidak tahu apakah kisah tadi merupakan sebuah kisah fiksi atau memang nyata terjadi. Hanya saja kisah kecil tadi meletupkan sebuah pertanyaan yang gemanya terus memanjang di dalam hati. Berapa harga paling pantas yang kita berikan untuk sebuah bendera? Adakah ia hanya sehelai kain yang dikibarkan setiap hari senin dalam sebuah upacara bendera, atau sesuatu yang kita simpan di gudang untuk kemudian dikibarkan setahun sekali atas himbauan dari Ketua RT di lingkungan tempat tinggal kita? Tentu tidak seperti itu. Dibalik sehelai bendera, sekumal dan selusuh apa pun wujud wadagnya, tersimpan kisah panjang tentang kepahlawanan. Dan dibalik sepenggal kisah kepahlawanan tersebut, ada sebuah monumen abadi tentang pengorbanan. Inilah harga paling mahal dari sebuah bendera yang tidak akan pernah dapat ditebus oleh apa pun juga.

Tapi saya pun tidak bisa menyepakati kalau nilai kepahlawanan hanya diukur dari sehelai bendera. Saya juga tidak bisa percaya kalau ada yang mengatakan kepahlawanan adalah barang langka dan mahal terutama sekali di zaman gombal (eh, global) seperti sekarang ini. Begitu putus asakah kita menemukan nilai kepahlawanan hari ini hingga harus “diimpor” dari masa lalu seperti slogan yang sering kita baca di spanduk peringatan Hari Kemerdakaan yang ditempel di dinding kantor dan jalan-jalan; “Mari kita wariskan semangat kepahlawanan generasi pendahulu …!

Maaf, sama sekali tidak ada niat meremehkan perjuangan para pendahulu. Mereka telah memberikan dan mengorbankan segala hal yang mereka punya untuk membebaskan manusia dari belenggu penjajahan. Mereka pantas untuk mendapat penghormatan tertinggi. Tapi menganggap kepahlawanan sebagai sesuatu yang harus diwariskan juga tidak dapat disepakati karena sesungguhnya kepahlawan senantiasa ada dan hidup di setiap kurun. Setiap zaman mempunyai masalahnya sendiri dan harus dijawab oleh kita sendiri. Tak harus membangunkan para pejuang dari tidurnya yang panjang, apalagi berharap seorang pahlawan super dari Planet Krypton untuk mengurusi segudang masalah kehidupan kita. Tanyakan saja pada Louis Lane kenapa ia menulis sebuah artikel berjudul : Why the world doesn’t need Superman?

Kepahlawan senantiasa lahir di setiap zaman. Sebab peperangan terjadi setiap waktu. Di jalanan, rumah-rumah, pasar berbau sampah dan gedung-gedung dingin dan megah. Bahkan di dalam diri. Di sini kebaikan dan keburukan bertarung tanpa henti. Hati nurani dan akal budi setiap saat berhadapan dengan gejolak nafsu serba-serbi. Kadang kita berani memilih kebenaran meski dengan sejumlah konsekuensi yang menyakitkan. Tapi kadangkala kita tak cukup punya nyali untuk membela hati nurani dan takluklah kita pada gejolak nafsu serba-serbi. Andai bisa memilih tentu kita menginginkan pilihan ketiga. Atau tiba-tiba kita ingin jadi orang lain. Tapi tak ada waktu untuk memilih, sebab hidup bukanlah tawar menawar (sebaris puisi Alm. WS Rendra; penghormatan saya pada mendiang)

Jika kita berani memilih kebenaran meski dengan begitu banyak keinginan yang harus dikorbankan, maka sesungguhnya kita telah melakukan tindakan kepahlawanan. Memilih menjadi seorang pahlawan, dengan atau tanpa pengakuan. Sebaliknya, jika kita tidak siap mengorbankan kepentingan dan keinginan kita untuk kebaikan dan kebenaran, maka kita lebih memilih untuk menjadi seorang pecundang walaupun harus menanggung pengorbanan yang jauh lebih mahal. Sebab setiap kesalahan harus ditebus dengan penyesalan dan gelisah yang berkepanjangan. Karena jauh di dalam hati selalu ada sebuah pemberontakan atas setiap pilihan yang keliru karena fitrah manusia memang selalu menginginkan kebenaran dan hati nurani.

Peperangan ini tidak akan pernah mengenal tepi kecuali di penghujung zaman kelak, atau saat jantung kita berpisah dari detak. Menjadi pahlawan atau pecundang tetap kehidupan bermuara pada kematian. Tapi seorang pahlawan hanya akan mati sekali, sementara seorang pecundang berkali-kali. Maka pantaskah kita mengibarkan bendera kemenangan itu hari ini, cuma kita sendiri dan Yang Maha Kuasa itulah yang mengetahui.

Tanah kelahiran, 07 Agustus 2009

Agustus 7th, 2009

Sebatang Jambu Di Samping Masjid

Posted by hsibnu in fiksi
Tepat di samping Masjid Al-Mu’min di kampungku, ada sebatang pohon Jambu Air yang tumbuh di sana melebihi usiaku dan teman-temanku. Mungkin juga melewati usia ibuku. Kalau Ayah, entahlah. Aku memang tidak pernah menanyakan.

Pohon itu berbuah seperti tak kenal musim. Bahkan jika pohon-pohon lain sudah tidak berbuah karena telah habis musimnya, buahnya tetap saja bisa kami nikmati meski tak bisa disebut rimbun. Tidak jarang setelah mengaji setiap ba’da Ashar kami berlama-lama di situ. Apalagi aku. Aku biasa berjam-jam duduk melamun di atasnya, kemudian menuliskan inspirasi yang kudapat menjadi sebuah cerita. Tanpa terasa matahari semakin rebah dan biasanya aku baru melompat turun dan terbirit-birit jika mendengar Ibu meneriaki aku untuk segera pulang ke rumah.

Tentang buahnya yang tak pernah putus itu kata Bang Ahmad guru mengaji kami, boleh jadi itu pertanda keikhlasan dari pemiliknya. Kai’ (1) Liham yang merawat pohon itu adalah orang yang selalu membagikan buah pohon Jambu Air itu kepada siapa saja yang menginginkannya secara cuma-cuma. Padahal jika ia mau menjual ke pasar tentu ada tambahan penghasilan untuknya selain dari menangkap ikan di sungai.

“Tidak usahlah. Pohon itu juga tumbuh sendiri dari sisa buah yang mungkin tidak sengaja dilemparkan,” jawabnya suatu ketika waktu ada seorang lelaki muda memberinya uang untuk beberapa buah jambu yang ranum. Istri lelaki itu rupanya sedamg mengidam jambu air, padahal musimnya sudah lewat.

Lelaki itu terus memaksa. Beberapa lembar 5 ribuan, jumlah yang besar untuk saat itu, diselipkannya juga ke kantong baju koko Kai’ Liham. Tapi yang diberi juga bersikeras menolak.

“Kalau ingin membayar, bayarlah pada pemiliknya!” serunya tegas sambil menyelipkan lembaran uang kembali ke genggaman tangan tamunya. Meski demikian mata dan bibirnya tersenyum lebar. Menampakkan sebaris geligi yang tak utuh lagi.

Lelaki itu kelihatan penasan. Telapak tangannya mengendur dalam genggaman Kai’ Liham.

“Kai’tahu?”

“Allah. Allah yang memiliki pohon itu. Bukan aku!”

Lelaki muda itu tertegun.

“Allah?”

“Bayarlah dengan kebaikan, Nang(2). Bahkan kebaikan itu pun kelak akan kembali lagi kepadamu!”

Tanpa diduga tiba-tiba saja lelaki itu membungkuk dan menciumi tangan Kai’ Liham. Begitu cepat kejadiannya. Ketika kepalanya terangkat matanya terlihat berkaca-kaca.

“Terima kasih, Kai’!” serunya berulang kali sebelum kemudian pergi disaksikan sepasang mata tua yang bercahaya.

“Begitulah. Cahaya iman dan dan ketulusan yang memancar dari mata Kai’ Liham telah menjadi sebab datangnya hidayah lelaki itu!” demikian cerita Bang Ahmad suatu ketika usai mengajari kami mengaji.

Sejak saat itu ingin sekali aku bertemu secara langsung dengan Kai’ Liham. Lelaki bersahaja yang juga rajin membersihkan halaman masjid dari daun-daun jambu yang berguguran. Tapi memang itu hanya sebatas keinginan. Beliau sudah meninggal sebelas tahun yang lalu. Seingat Ibu, waktu itu aku baru sekitar 3 tahunan. Terserang Malaria yang memang menjadi penyakit berbahaya di daerahku sampai hari ini.

Yang dapat kutemui saat ini adalah istrinya. Menempati rumah kecil beratap daun nipah di atas sebidang tanah di sebelah selatan masjid kami. Kami memanggil perempuan tua itu dengan sebutan Nenek Anis. Berasal dari kata Manis. Dipanggil demikian karena wajah yang keriput dan uban di sekujur kepalanya itu sama sekali tidak dapat menutupi sisa kecantikan di masa lalu.

Ia masih meneruskan kebiasaan suaminya membagikan buah jambu air itu secara cuma-cuma kepada siapa pun yang menginginkannya. Selain itu aku mengenalnya sebagai seorang perempuan tua yang rajin bekerja. Bayangkan, pagi-pagi ia sudah sibuk merawat sayuran di pekarangan. Memilih yang sudah pantas untuk dipanen dan menjualnya dengan pedagang yang lewat di depan rumahnya karena sudah beberapa tahun ini ia sudah tak mampu lagi ke pasar dan menjual secara langsung hasil kebunnya.

Setelah itu, seperti Alhmarhum suaminya, Nek Anis membersihkan daun-daun jambu yang berguguran di halaman masjid. Bukan sesuatu yang mudah untuk orang setua dirinya. Saat itulah seringkali aku, juga orang-orang lain di kampungku melihat ia seperti berbicara dengan daun-daun itu. Hanya saja kalau ada orang-orang yang mendekatinya, ia segera saja bungkam seolah tidak ada apa-apa antara ia dengan daun-daun jambu itu. Kata Ibu, mungkin ia kesepian sehingga bercakap-cakap dengan daun.

“Nek Anis itu memang pendatang di kampung kita. Dia ke sini ikut suaminya. Setelah suaminya meninggal ia tidak punya siapa-siapa lagi di tempat ini. Mungkin itulah sebabnya ia sering merasa kesepian,” tutur Ibu suatu hari sambil menyiapkan dua buah rantang berisi sayur dan lauk pauk untuk Nenek Anis.

Ibu memang sering menyuruhku mengantar rantang berisi sayur dan lauk pauk untuk perempuan baik hati itu meski berulangkali Nek Anis berpesan melalui aku agar Ibu tidak usah lagi mengiriminya makanan. Merepotkan saja, kataya. Tapi Ibu tetap saja menyuruhku mengantarkan sayur dan lauk pauk untuknya. Kata Ibu, kita semua bersaudara. Sepiring nasi untuk membantu orang lain tidak akan membuat kita menjadi miskin. Tapi jika tetangga kita kelaparan dan kita tidak peduli sekalipun kita rajin beribadah, kelak Baginda Nabi tidak akan mau mengakui kita sebagai umatnya.

Akhirnya Nek Anis mau menerima kiriman Ibu. Setiap hari sepulang sekolah aku mengirimkan rantang itu ke rumahnya. Biasanya aku tidak langsung pulang tapi menemaninya mengobrol di depan pintu rumahnya. Dia asyik mengunyah sirih, aku memamah jambu dan baru berpamitan pulang menjelang Ashar.

Bertahun-tahun lamanya pohon dan buah jambu air itu sekaligus menjadi jembatan pertemanan kami. Waktu yang lama untukku mengenali ada sesuatu perubahan yang terjadi dengan dirinya. Seminggu ini kulihat ia jarang berbicara. Kadang-kadang melamun dan seringkali terkejut kalau aku menanyakan sesuatu. Mulanya ia menyangkal. Lama-lama mau juga ia bercerita.

“Pohon jambu itu, Nang …!”

Aku melihat matanya berkaca-kaca ketika menatap kea rah pohon jambu tua.

“Kenapa, Nek?”

“Mereka akan menebangnya.”

Aku jelas menangkapnya sebagai sebuah kejutan meskipun kata-kata tadi diucapkan dengan suara yang lirih bergetar. Kedua bahunya yang sudah bungkuk semakin merunduk.

Dari mulutnya kemudian aku mendengar cerita. Lebih kurang seminggu yang lalu Pak H. Zarkasi dan beberapa pengurus masjid mengunjungi dirinya. Mereka mengatakan kalau H. Jali, orang paling kaya di kampung kami memiliki nazar merehab Masjid Al-Mu’min jika anak semata wayangnya bisa lepas dari ketergantungan obat-obatan terlarang. Ternyata harapannya dikabulkan Allah. Anaknya yang sekarang mondok di salah satu pesantren di Jawa Tengah, Alhamdulillah, kabarnya telah sembuh.

“Tidak cuma merebab, masjid kita ini katanya akan dibangun lebih megah lagi, lengkap dengan taman dan kolam ikan hias!”

Nenek Anis ikut senang mendengarnya. Tapi …

“Kami meminta kesediaan Pian(3) untuk menebang pohon jambu ini!” pungkas H. Zarkasi yang ditunjuk sebagai juru bicara. Katanya lagi, akar jambu air itu dikhawatirkan merusak keindahan taman yang akan dibangun.

Aku mengerti sekarang. Rupanya rencana menebang pohon jambu kami dalam rangka renovasi masjid tersebut membuat perempuan sebatang kara ini merasa sedih. Sejauh ini aku bisa merasa bersimpati dengannya. Sebatang pohon jambu itu mungkin mengingatkannya pada seseorang yang sangat dekat dengannya, Kai’ Liham yang baik hati. Akan tetapi aku tidak menyangka ia menyimpan sebuah alasan lain kenapa ia begitu sedih dengan rencana menebang pohon jambu itu.

“Kebaikan apalagi yang bisa aku lakukan kalau pohon itu sudah tidak ada lagi?”

Padaku Nenek Anis mengakui. Ia sering iri pada orang-orang yang bisa berbuat baik dengan hartanya. Atau dengan tenaganya, Atau dengan pengetahuannya.

“Sementara aku untuk membaca ayat suci saja terbata-bata. Tidak seperti kau yang lancar membacanya. Satu-satunya kebaikan yang bisa kupertahankan selama ini adalah pohon jambu itu. Buahnya bisa kuberikan kepada siapa saja yang menginginkan. Sementara dengan membersihkan daun-daunnya yang gugur di halaman masjid aku berharap itu pun menjadi sebuah kebaikan bagiku,” paparnya murung.

Sampai malam aku masih teringat ucapan Nenek Anis. Perempuan malang. Aku bisa membayangkan perasaannya jika renovasi itu jadi dilakukan dan pohon jambu itu ditebang. Perasaan sepi dan tidak berguna akan menghantui hari-hari tuanya.

“Jika selesai dipugar, mereka tentu tidak akan menyuruh orang tua yang sudah lapuk ini untuk mengurus kebersihan taman dan masjid. Ah, sia-sianya hidupku!” keluhnya sebelum aku pulang tadi. Dan aku cuma bisa memintanya untuk bersabar.

Malam yang terasa begitu panjang. Setelah Shalat Subuh aku mengayuh sepedaku ke rumah Bang Ahmad. Malu juga sebenarnya karena sejak khatam mengaji dulu aku tidak pernah lagi berkunjung ke rumahnya. Paling-paling aku bertemu di masjid sesaat usai shalat. Tapi saat ini kupikir dia adalah orang yang tepat kuajak berbincang tentang kondisi Nek Anis.

Beberapa saat lamanya ia terdiam mendengar ceritaku tentang Nek Anis.

“Nenek Anis itu orang yang baik dan sederhana. Sesederhana itu pula jalan fikirannya. Dia fikir pahala kebaikannya akan berakhir kalau pohon itu sudah tidak ada lagi. Padahal kebaikan yang selalu dipesankannya pada orang-orang yang datang meminta jambu itu akan selalu mengalir padanya!”

Kepadaku, Bang Ahmad berjanji akan membicarakan hal tersebut dengan pengurus masjid.

“Kita bersalah melupakannya dalam rencana renovasi masjid kita. Kalau perlu, konsep taman di halaman masjid itu difikirkan kembali sehingga tidak perlu sampai harus menebang pohon jambu itu!” tukasnya.

Ada perasaan bahagia yang mekar di dalam hatiku mendengar kata-kata Bang Ahmad. Tidak sabar rasanya menyampaikan kabar gembira ini pada Nek Anis. Siang itu dengan dua rantang di tangan aku kembali ke rumahnya. Tapi tak seperti biasa, dua kali ucapan salamku hanya disamput sepi.

Kuucapkan salam ketiga. Masih tak ada berjawab. Tanganku terulur membuka daun pintu yang ternyata tak terkunci. Aku ingat Bang Ahmad mengajarkan untuk pulang jika setelah tiga kali mengucap salam tak ada jawaban. Tapi jantungku yang tiba-tiba berdegup membuat aku memutuskan untuk terus masuk ke dalam. Dan …

Masya Allah … Di depan pintu kamar yang terbuka aku melihatnya meringkuk di atas tempat tidur. Menggigil hebat sampai tempat tidur dari kayu tanpa kasur itu ikut bergoyang kuat.

Secepat kilat aku berlari ke luar mencari pertolongan. Beberapa orang yang berdiri di depan rumahnya segera berlari mendengar teriakanku. Dalam sekejap rumah kecil itu dipenuhi tetangga kiri-kanan. Seorang anggota Koramil yang ikut masuk ke dalam rumah langsung membopong tubuh yang menggigil itu. Dengan menggunakan mobil ia langsung dilarikan ke rumah sakit di kecamatan.

Kata Dokter pada Bang Ahmad yang menjenguk, ia menderita malaria yang sudah sangat kronis. Panas badannya tinggi yang mungkin sudah mengganggu syarafnya menyebabkan ia sering mengigau kata-kata yang tidak jelas.

“Sesekali rintihannya terdengar jelas, tapi kami tidak bisa mengerti. Entah pesan atau semacam itu!”

“Apa itu, Dok?”

“Daun …!”

Tanah Kelahiran, 02 Agustus 2009

(1) Kakek (Banjar)
(2) Anang; Panggilan Untuk Anak Laki-Laki (Banjar)
(3) Sapaan Untuk Orang Yang Lebih Tua (Banjar)

Juli 26th, 2009

Perlukah Jasa Seorang Translator?

Posted by hsibnu in kalam

Ini abad globalisasi, Kawan. Tidak salah jika suatu saat - atau hari ini - engkau ingin karyamu dibaca oleh lain yang tak mengerti bahasamu. Jika kau menguasai bahasa asing dan menulis sendiri puisi atau cerpenmu dalam bahasa tersebut tentu tak menjadi soal. Masalahnya adalah jika engkau tak menguasainya sama sekali. Dulu saya pernah membaca kumpulan Cerpen Mbak Helvy (Lelaki Kabut dan Boneka) yang dicetak dwi bahasa. Hasilnya keren sekali. Tentu dari penerbit yang punya peran melakukan proses terjemahan.

Tapi bagaimana dengan kita yang masih dalam proses belajar ini? Tentu tidak bisa berharap penerbit melakukan proses yang sama bagi kita. Juga tidak salah kalau kita yang melakukan proses terjemahan tersebut. Jangan berharap menggunakan jasa terjemahan gratis yang banyak disediakan di internet. Mungkin bisa, tetapi hasilnya akan jauh dari memuaskan. Bahasa sastra yang kau pergunakan dalam tulisan tidak akan bisa diikuti oleh perangkat softwere penerjemah yang biasanya hanya dibekali kosa kata sehari-hari. Akibatnya seringkali hasilnya jauh dari memuaskan. Saat itulah mungkin kau perlu jasa seorang translator alias penerjemah. Satu lagi, tidak semua lembaga penerjemah atau perorangan yang sanggup menerjemahkan puisi atau cerpen. Sekali lagi penyebabnya karena tentu saja bahasa yang kita pakai tidak termasuk dalam bahasa yang umum. Dan biasanya para penerjemah ini memiliki latar belakang Sastra Inggris, atau memang biasa menulis seperti kita.

Gratis? Hmm …, sepertinya sampai sekarang saya belum menemukan yang gratisan. Semua jasa terjemahan biasanya berbayar. Ada yang dibayar dengan mata uang sendiri, ada pula yang menggunakan dolar (via paypal). Saya ingat Almarhum Yudhiswara dulu waktu mau ikut World Poetry Reading di Kuala Lumpur harus pontang-panting mencari penerjemah puisi-puisinya sampai harus ke Bandung segala. Dan waktu itu tarif yang disepakati Rp. 60.000 / lembar. Alasannya karena menerjemahkan puisi atau cerpen lebih berat dari menerjemahkan tulisan yang lain. Mahal? Itu relatif, kawan. Mengingat waktu acara tersebut sudah sangat dekat, teman saya inipun kemudian sepakat. Deal!

Selama ini saya menggunakan jasa seorang translator. Namanya Dewinta Vitria Maharani, kalau tidak salah tinggal di Malang. Saya tidak tahu latar belakang pendidikannya, tapi sejauh ini saya merasa puas dengan hasil terjemahannya atas puisi maupun cerpen saya. Dengan menggunakan mesin pencari google saya memasukkan kata translator. Hasilnya saya menemukan begitu banyak para penerjemah yang menawarkan jasanya melalui internet. Saya menghubungi salah satunya yang kemudian merekomendasikan seorang kenalannya yang dianggap lebih berkompeten menerjemahkan karya yang cenderung ‘nyastra. Harga yang ditawarkan jauh lebih rendah dari yang disepakati teman tadi. Sebagai promomosi saya ditawari halaman uji coba dengan mengirimkan sebuah puisi saya untuk diterjemahkan terlebih dahulu. Berapa? Rasanya kurang etis kalau saya tuliskan di sini.

Hasilnya? Kalau ingin melihat salah hatu hasil terjemahan tersebut, saya lampirkan satu cerpen saya berjudul Pemudik (diterjemahkan menjadi Going Home) yang bisa diunduh secara gratis. Silahkan menuju secara langsung ke link berikut ini http://www.ziddu.com/download/5774362/GoingHome_BookofStories_.pdf.html.

Bagi yang ingin mencoba silahkan menghubungi yang bersangkutan di email Dewinta Vitria Maharani :  talktowinta at yahoo.com

Juli 23rd, 2009

Paragraf Ke Empat

Posted by hsibnu in Puisi

DI Kamar itu, kita bukan pengantin. Burung lepas, sangkar bebas, mengira kamar ini adalah alamat. Ia yang mengantar sepasang kartu kecil - semacam undangan pesta perpisahan: di situ nama-kecil-mu dan nama-kecil-ku, ditulis dengan Times New Roman miring. Cemas wajahku, gentar wajahmu - bagai tak rampung lukisan Rembrant.

DI Kamar itu, kita saling kehilangan. Tadi, hanya sebentar kita sentuhkan kepala. Langit-langit kamar, jadi kabut samar. Lampu di lorong kita tak bisa padamkan: terbiarkan bayang-bayang itu hidup di kaca jendela, jadi hantu - mungkin ia mau bertamu. Di restoran tadi - seperti aku - sepertinya ia perhatikan engkau membenahi lapisan Lancome di bibirmu.

Di Kamar itu, kita tak sempat memperhatikan tema lukisan. Mungkin ia pemandangan musim di negeri subtropika: Renoir atau Cezanne, mereka yang pandai mengekalkan cahaya. Dan sekarang, di sembarang, kuhayati potret kamar itu, seperti terjebak mutlak, pada musim tak-berjadwal-tak-bernama: dedaunan lepas, jatuh amat perlahan, lalu jadi salju sebelum menyentuh rerumputan, unggas berhamburan, mamalia kecil berebutan…

Di kamar itu, terpaksa kita biarkan kenangan mengelupas di dinding. Kau - mungkin kita - tak bisa lagi menunda rintik dan membiarkannya tumpah dalam irama yang ritmik. Maka biarkan saja semua pintu dan jendela terbuka. Karena kecuali sehelai uban yang tertinggal di bantal, tidak akan ada lagi yang bisa dicuri. Sebab kita memang mungkin tak pernah ada
Catatan: Tiga paragraf pertama puisi tadi ditulis oleh Penyair Hasan Aspahani. Paragraf ke empat saya tulis karena godaan 3 paragraf pertama puisi …
Juli 23rd, 2009

Sssssttt ….

Posted by hsibnu in Puisi

biar kita simpan kata-kata
dalam kaleng kerupuk rombeng

biarkan mereka gaduh di sanaBaca Selengkapnya
asal jangan di telinga

tapi pindahkan dulu
semua isinya ke atas piring beling
lalu suguhkan padaku
sebab yang kita telan bertahun-tahun
cuma kekosongan

lalu jangan kau tanya
kenapa dahaga itu masih ada
kalau secangkir puisi
hanya menyisakan setetes sepi

tanah kelahiran, 24 Juni 2009

Juli 23rd, 2009

Surat Beku

Posted by hsibnu in Puisi

pernah dulu kukirim surat padamu
kutulis pada suatu pagi
dengan tinta embun
yang keruh oleh debu polusi

tapi surat itu
tak pernah sampai padamu

tentu aku keliru
mengirimnya pada alamat beku

atau aku yang lupa
mengirimkannya ke alamatku sendiri

tanah kelahiran, 25 April 2009

Juli 23rd, 2009

Sederhana Itu Istimewa

Posted by hsibnu in kalam

Saya awali tulisan sederhana ini dengan sebuah pertanyaan. Peristiwa seperti apakah yang menggerakkan jemari kita untuk menulis?
Seringkali kita hanya ingin menulis sesuatu yang - menurut kita - besar dan penting untuk ditulis. Kita merasa berat untuk menulis sesuatu yang sederhana dan biasa-biasa saja. Padahal terlalu sedikit peristiwa besar dalam kehidupan kita yang sederhana dan biasa-biasa ini. Begitu juga orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Tiba-tiba saya teringat orang-orang “sederhana” yang sepanjang pengetahuan saya tekun menulis sesuatu yang secara kasat mata memang berangkat dari sebuah kesederhanaan. Tentang sesuatu yang begitu biasa dalam kehidupan kita sehingga seringkali kita malas untuk menuliskannya. Satu dari mereka pernah saya temui secara langsung, yang lainnya hanya saya kenal melalui karya-karya mereka yang menurut saya sama sekali tidak sederhana.

Guru kesederhanaan pertama bagi saya adalah Yusakh Ananda. Sampai saat sebelum kepulangan saya ke kampung halaman, penulis senior yang pernah dijuluki HB Jassin sebagai barometer cerpen Indonesia tahun 50′an ini masih tetap berkarya di sela-sela kesibukannya berjualan es dan bubur di sebuah kantin SD di Pontianak (terakhir dengan dana sekedarnya dari teman-teman FLP tahun 2002 yang lalu hasil Antologi Cerpen Cermin dan Malam Ganjil beliau berjualan Bensin kecil-kecilan di belakang rumahnya). Apa yang ditulisnya dalam karya? Kampungku Yang Sunyi, salah satu cerpennya yang pernah diterjemahkan dalam sejumlah bahasa asing “hanya” berkisah tentang suasana kampung halamannya saat ia masih kecil. Begitu juga cerpennya yang berjudul “Kain Tilam” yang mengisahkan sebuah keluarga yang sekalipun mengalami penderitaan zaman pendudukan Jepang masih bersedia membagi sehelai kain tilam yang dimilikinya untuk pakaian sekedarnya bagi tetangga lain yang sama-sama menjadi korban perang. Suatu zaman yang memang pernah dilaluinya. Begitu juga cerpen “Si Manis dan Anak-Anaknya” yang mengisahkan tentang nasib seekor kucing yang tak lagi disayangi oleh majikannya setelah tua, yang sebenarnya menurut saya begitu kental nilai humanisme yang disuguhkannya.

Penulis “sederhana” lainnya adalah Alm. (?) Kuntowijoyo. Guru Besar Ilmu Sejarah ini begitu memikat saat menulis “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. Tema yang sebenarnya sepele tentang seorang anak laki-laki yang sangat suka menanam bunga seperti kakek tetangganya meskipun sang ayah lebih menyukainya mengerjakan “pekerjaan lelaki”. Kesederhanaan yang sama nampak dalam karya-karya beliau yang lain seperti Hampir Sebuah Subversif (ingatkan saya kalau judulnya keliru) yang “hanya” dengan setting pemilihan kepala desa Pak Kunto bisa menyentil prilaku elit politik di negeri ini.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan, tidak ada tema yang sederhana. Sejauh ini yang ada adalah karya yang sederhana. Jadi berikan ruang di kepala dan hati kita untuk secangkir kopi yang tumpah, vas bunga aluminium yang jelek dan kusam, tukang bakso yang setiap hari lewat di depan rumah, atau daster ibu yang kusam di jemuran pakaian. Jangan tunggu sebuah peristiwa dahsyat menghampiri kita. Kalau peristiwa seperti itu yang kita tunggu untuk menulis, mungkin akan butuh waktu yang lama bagi kita untuk menulis.
Walt Disney sukses ketika ia mengabadikan tikus kecil yang mondar-mandir di garasi yang menjadi ruang kerjanya. Kalau ia menunggu sesuatu yang besar - mungkin gajah - yang lewat di garasinya mungkin ia tidak akan pernah mencapai kesuksesannya seperti sekarang ini.

Jika kita tidak menemukan sesuatu yang besar dalam kehidupan kita yang sederhana, make one …!

Juli 23rd, 2009

Ujian (paling) Nasional

Posted by hsibnu in catatan hati

Hari-hari terakhir ini berita tentang pelaksanaan ujian nasional berikut perdebatan yang mengiringinya ikut mengisi mata dan telinga kita, berebut tempat dengan berita kompetisi di panggung politik yang mulai menuju ke arah kepemimpinan nasional.

Bagi yang telah menempuhnya, silahkan menunggu pengumuman hasil evaluasi belajar selama beberapa tahun (saya sebut beberapa karena ada yang menempuhnya tidak secara persis sesuai dengan harapan) dengan menenang-nenangkan diri. Bagaimanapun proses sudah berlangsung. Kita tinggal menunggu hasilnya. Bagi yang lulus, silahkan sejenak merayakan keberhasilan karena memang sudah ditakdirkan tidak semua orang bisa lulus lubang jarum sistem evaluasi ini.

Ibu saya, perempuan yang membesarkan saya dengan penuh cinta, tak bisa melanjutkan pendidikan lebih dari tingkatan SD. Bukan karena tidak lulus ujian, tetapi karena memang tidak bisa. Dulu, zaman Ibu saya masih sekolah dulu, ujian akhir hanya dilaksanakan di ibukota Kabupaten. Untuk sampai ke sana, orang harus berjalan kaki selama 2 hari dan semalam menginap di jalan. Sampai di situ masih harus naik kelotok (sampan besar bermesin) selama 1 hari lagi, plus tempat menginap dan konsumsi di perjalanan. Bagi keluarga yang bersahaja seperti kebanyakan keluarga di kampung kami waktu itu, ijazah sangat tidak pantas ditukar dengan biaya dan pengorbanan sebesar itu. Kata Ibu, hanya 3 orang temannya yang memang keluarganya tergolong mampu yang bisa berangkat untuk ikut ujian di Kabupaten saat itu. Sementara Ibu yang sebenarnya berprestasi sejak kelas 1 SD, terpaksa menyerah pada keadaan. Saya tahu Ibu pasti kecewa karena menurut cerita dari Nenek dulu, Ibu demam panas selama seminggu karena tidak bisa mengikuti ujian di ibukota Kabupaten itu.

Ayah saya pun bukan berangkat dari keluarga berada. Setelah yatim piatu di kelas 3 SD, Ayah harus berpindah-pindah dari keluarga satu ke keluarga lain yang sesungguhnya tidak sungguh-sungguh berkemampuan dan bekerja keras untuk dapat sekolah. Ijazah SMAnya diperoleh ketika ia telah bekerja sebagai pegawai negeri dan memperoleh izin belajar. Berkaca pada kisah hidup Ibu, dan Ayah yang berjuang keras untuk dapat bersekolah, hari ini saya menyadari kekecewaan mereka ketika dulu saya memutuskan untuk berhenti kuliah begitu saja tanpa mempertimbangkan perasaan mereka. Meski kemudian saya kuliah lagi dan dalam waktu singkat sekarang hampir menyelesaikan S-1 saya, tentu tak lagi sama. Tak lagi sama …:((

Ada pergeseran di masyarakat kita tentang pentingnya sebuah pendidikan. Kalau zaman dahulu, pendidikan bukan sesuatu yang perlu ditebus dengan pengorbanan. Perkembangan zaman membuka cakrawala berfikir pentingnya pendidikan bagi mempersiapkan lahirnya generasi masa depan yang lebih CERDAS sehingga diharapkan mampu menjawab tantangan zaman. Ukuran kecerdasan tersebut terlihat dari terus ditingkatkannya standar nilai kelulusan menjadi minimal 5,5.

Hampir dipastikan mereka yang “cerdas” kemudian bisa lulus dari Ujian Nasional. Sayangnya kemudian kecerdasan menjadi satu-satunya acuan bahwa mereka bisa sukses dan bahagia dalam kehidupan. Ketika tolak ukur kecerdasan adalah nilai yang tercantum dalam ijazah yang diperoleh dari proses Ujian Nasional, akibatnya ada saja (saya tidak menyebut angka) pihak yang beranggapan kelulusan Ujian Nasional pantas diusahakan, bahkan dengan sebuah kecurangan.

Kedua orang tua saya yang bersusah payah menempuh pendidikan mengajarkan kepada saya. Yang paling penting itu proses. Bukan hasil. Tidak ada keberhasilan yang sifatnya instan. Ujian Nasional pada dasarnya hanya satu ujian kecil dari kesuluruhan ujian kehidupan. Tidak lulus Ujian Nasional bukan kiamat andai kita lulus dari ujian waktu dan tidak memaksakan sebuah kecerdasan palsu. Percayalah, ini bukan kalimat hiburan untuk mereka yang kali ini tidak lulus ujian.

Selain Ujian Nasional dan ujian kehidupan sepanjang waktu, sebentar lagi kita akan mengetahui hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Sejumlah orang yang pantas untuk memimpin kita melewati ujian kehidupan sebagai bangsa akan diuji dalam sebuah proses Ujian (paling) Nasional. Kita semua sedang menguji keputusan kita sendiri. Ini lebih dari sekedar pilihan ganda. Ini soal 5 tahun ke muka. Apakah kita memilih karena kepentingan nasional atau individual, atau apakah kelak mereka yang terpilih memang merupakan orang-orang yang cerdas dan tulus atau tergolong mereka yang memiliki kecerdasan dan ketulusan palsu, maaf saya tidak punya bocoran jawaban. Biar waktu yang menjawabnya

Halaman Berikutnya »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web